Work From Home Burnout

Beberapa waktu lalu saya mendapat kesempatan untuk mempresentasikan suatu topik, yang semenjak diterapkannya PSBB atau social distancing ini menjadi cukup ramai dibahas di kalangan karyawan dari berbagai perusahaan, tapi jarang diangkat ke atas.

Burnout pekerja…

Isu ini saya dalami ketika saya beberapa kali ngobrol dengan beberapa kawan di perusahaan-perusahaan lain, hampir sebagian besar mengeluhkan “sejak WFH jadi sering rapat sampai malam, weekend juga masih kerja, g ada istirahatnya”. Hampir semuanya, dengan bahasa yang kurang lebih sama & keluhan yang sama.

Awalnya saya pikir ini hanya terjadi di Indonesia, dengan gegar budayanya terhadap teknologi seperti MSTeams atau Zoom, sehingga banyak orang masih ‘hype’ dengan kecanggihan dan kemudahan bisa rapat kapanpun di manapun.

Tapi ternyata fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Ketika saya googling, banyak sekali saya temui isu mengenai WFH burnout ini. Bahkan google sendiri memberikan hari libur tambahan bagi para pekerjanya, yang disinyalir sudah mengalami burnout karena WFH.

Setelah saya cari lebih lanjut, saya merangkumnya dalam 3 poin sebagai berikut:

1. Apa yang sebenarnya terjadi?

Berikut adalah keluhan yang saya temui dalam kehidupan saya dan yang saya dapatkan dari internet:

  1. Overwork (weekend kerja, malam-malam rapat)
  2. Kerjaan Kantor + Kerjaan Rumah Tangga + Mengurus Keluarga (terutama pekerja wanita)
  3. Cemas, tidak tenang, walaupun ada di rumah (tidak bisa lepas dari gawai, takut ada request pekerjaan di gawai)
  4. Perlu melepas penat tetapi terbatasi
  5. Kehilangan minat & niat bekerja
  6. Merasa emosional atau depresi

2. Apa Penyebabnya?

Penyebab utama burnot dari sebuah artikel di Harvard Business Review adalah sulit memisahkan pekerjaan dan bukan pekerjaan:

  • Menjadi satu secara sosial, fisik, mental, ruang, & waktu
    • Secara sosial: beberapa pekerja hanya memiliki lingkungan sosial terbatas (lingkungan kantor dan tetangga adalah lingkungan sosialnya). Setelah saya periksa lebih lanjut, ini terjadi di generasi boomers. Kebanyakan dari mereka paling banyak berinteraksi dengan orang kantor/terkait kantor.
    • Secara fisik, mental, dan ruang: WFH membuat kita tidak memiliki batasan fisik. Bangun tidur bisa langsung bekerja dengan piyama atau celana pendek, ruang tidur bisa langsung menjadi ruang kerja. Dalam kondisi normal, ada batasan secara bawah sadar mulai dari rumah-perjalanan-kantor-perjalan-rumah. Pakaian yang digunakan juga berbeda antara kantor dan rumah.
    • Secara waktu: bisa sewaktu-waktu bekerja karena tidak ada batasan perjalanan pulang/pergi, dan semua orang tahu bahwa karyawan seharusnya ada di rumah.
  • Perbedaan paradigma “Ideal Worker(Boomers vs Millenials)
    • Ideal worker bagi generasi boomers adalah Ayah sebagai kepala keluarga yang bekerja, sementara itu Ibu berada di rumah mengerjakan pekerjaan rumah dan membesarkan anak. Ideal worker mendedikasikan dirinya untuk bekerja, karir, dan perushaan. Padahal konsep ideal worker ini sudah sangat jauh bergeser. Saat ini wanita juga bekerja sambil mendidik anak dan mengurus rumah dari jauh. Bahkan pria pun juga bisa sambil bekerja sambil mendidik anak dan mengurus rumah. Paradigma ini sudah berbeda dengan di era boomers. Di sisi lain, generasi milenial adalah generasi yang memaknai hidup lebih dari sekedar bekerja, dan mereka adalah generasi yang dikatakan paling memahami bagaimana menghargai (aktualisasi) dan menikmati hidup.
  • Studi: Email after working hours (5 Studi dari 2000 Pekerja Dewasa)
    • Hasil studi tersebut menyebutkan bahwa secara bawah sadar, atasan yang menerima email dari bawahan maupun sebaliknya, di waktu setelah jam kerja, memiliki urgensi untuk segera membaca/merespon email tersebut. Dalam situasi sekarang, Whatsapp bisa lebih membuat orang merasa harus segera merespon hal-hal terkait pekerjaan di luar jam kerja.

Penyebab burnout dari sumber lainnya adalah:

  • Karyawan merasa tidak mempunyai kendali atas waktu & hidupnya
    • Manajemen ingin mengendalikan & mengawasi karyawan
      • Secara jarak jauh, hal semacam ini cukup sulit dilakukan. Manajemen perlu tahu apa yang dilakukan karyawannya saat ini & mengendalikan pekerjaan agar bisa terselesaikan dengan baik. Manajemen bisa mengendalikan karyawan dengan lebih ‘tidak masuk akal’.
    • Karyawan ingin terlihat produktif
      • Pada dasarnya setiap orang memiliki keinginan untuk eksis. Karyawan yang ingin terlihat produktif bisa mengirimkan email/whatsapp ke atasannya di luar jam kerja hanya untuk menunjukkan bahwa dirinya produktif.
    • Kurang memahami bahwa tim memiliki situasi & kondisi berbeda-beda
      • Di kantor, karyawan adalah karyawan saja, satu individu yang kita kenal siap untuk bekerja bersama. Tapi di rumah, karyawan bisa memiliki anak 4 atau merawat orang-tuanya. Dalam situasi social distancing, anak-anak juga melakukan sekolah online dan belajar diawasi orangtuanya. Hal-hal semacam ini bisa dilakukan oleh beberapa karyawan, dan situasi rumah setiap karyawan bisa berbeda-beda.
  • Technology hiccups 
    • Keandalan jaringan bisa menyebabkan karyawan frustrasi. Pada waktu sangat dibutuhkan tiba-tiba jaringan melambat, atau sulit mendapatkan jaringan yang stabil. Situasi jaringan di setiap rumah berbeda-beda.
  • Kurang dukungan/merasa sendiri
    • Di kantor, kita bisa dengan mudah meminta bantuan rekan kerja lain, begitu juga kita bisa dengan mudah melihat rekan kerja yang kesulitan. Di rumah, kita bekerja sendiri. Bahkan kita tidak punya waktu makan siang bersama sahabat yang berisi obrolan-obrolan mengenai masalah kantor yang berfungsi sebagai cara melepaskan stres bekerja. Di rumah, kita makan siang sendiri dan kita tidak bisa bercerita mengenai masalah kantor yang dihadapi dengan cara yang sama ketika makan siang bersama rekan kerja.

3. Bagaimana Cara Mengatasinya?

Saya rangkum dari beberapa sumber, berikut adalah cara yang bisa dilakukan:

  1. Buat batasan sosial kantor dan bukan kantor.
    • Lebih baik jika kita memperbesar lingkungan pergaulan, seperti dengan teman-teman SMP atau teman-teman sehobi di luar lingkaran kantor. Ini untuk memudahkan kita melepaskan diri dari pikiran pekerjaan.
  2. Buat batasan ruang kerja di rumah.
    • Misalnya selepas dari meja kerja, itu adalah rumah. Meja kerja adalah kantor.
    • Bisa juga dengan pakai baju kantor ketika bekerja, dan setelah selesai pakai kembali celana pendek dan kaos oblonnya.
  3. Buat batasan waktu kerja & sepakati bersama dengan tim dan atasan.
    • Bekerja lembur tetap bisa dilakukan dengan tetap memperhatikan jadwal dan waktu istirahat yang sudah disepakati bersama. Dengan begini, bekerja lembur bukan menjadi beban, karena karyawan sendiri memiliki gambaran dan merasa memiliki kendali atas hidupnya, bahwa lembur masih ada batasannya & sudah dibahas bersama dengan tim.
  4. Buat jadwal pribadi untuk bekerja, mengerjakan pekerjaan rumah tangga, mengelola keluarga.
    • Bisa juga disepakati dengan pasangan, kapan waktunya pasangan mengajari/menemani anak belajar online, kapan waktu kita.
  5. Buat prioritas & fokus ke pekerjaan paling penting
    • Ada teori bahwa waktu kerja efektif adalah hanya 3 jam saja.
    • Dalam WFH, kita menangani rumah, keluarga, dan kantor, jangan buang pikiran dan waktu untuk hal-hal yang bukan prioritas.
  6. Hormati & hargai orang lain
    • Jangan lupa bahwa setiap orang menghadapi hal yang berbeda di rumahnya.

Sebagai penutup, tetap jaga diri dan jaga orang lain.

Berikut saya sajikan materi presentasinya: WFH Burnout

Semoga bermanfaat.

Salam,

Yohanes Handoko Aryanto, S.E., MBA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *