Penentuan Low Value Asset PSAK 73

Menjelang penerapan PSAK 73 (konvergensi dari IFRS 16), saya ingin memberikan insight mengenai Low Value Asset (LVA) – Aset Bernilai Rendah, yang menjadi pengecualian dalam PSAK 73. Insight ini saya dasarkan pada Pedoman Penerapan dalam PSAK 73 paragraf PP03-PP08, penjelasan ACCA, dan Basis for Conclusions IFRS 16.

1. Pedoman Penerapan PSAK 73

  • PP03: “Kecuali sebagaimana ditetapkan dalam paragraf PP07, Pernyataan ini memperkenankan penyewa untuk menerapkan paragraf 06 untuk mencatat sewa di mana aset pendasarnya bernilai-rendah. Penyewa menilai nilai aset pendasar berdasarkan nilai aset ketika aset tersebut baru, tanpa memperhatikan umur aset yang disewakan.”
  • PP 04: “Penilaian apakah aset pendasar bernilai-rendah dilakukan atas dasar absolut. Sewa aset bernilai-rendah memenuhi perlakuan akuntansi pada paragraf 06 terlepas apakah sewa tersebut material untuk penyewa. Penilaian tidak dipengaruhi oleh ukuran, sifat, atau keadaan penyewa. Dengan demikian, penyewa yang berbeda diharapkan dapat mencapai kesimpulan yang sama mengenai apakah aset pendasar tersebut bernilai-rendah.”
  • PP 05: “Aset pendasar dapat bernilai-rendah hanya jika:
    • penyewa mendapat manfaat dari penggunaan aset pendasar secara terpisah atau bersamaan dengan sumber daya lain yang telah tersedia untuk penyewa; dan
    • aset pendasar tidak memiliki ketergantungan yang tinggi, atau memeiliki interelasi yang tinggi, dengan aset lain.”
  • PP 06: “Sewa aset pendasar tidak memenuhi kualifikasi sebagai sewa aset bernilai-rendah jika sifat aset adalah, ketika baru, aset tersebut biasanya tidak bernilai-rendah. Sebagai contoh, sewa mobil tidak akan memenuhi sebagai sewa aset bernilai-rendah karena mobil baru biasanya tidak akan bernilai rendah.”
  • PP07: “Jika penyewa mensubsewakan aset, atau memperkirakan akan mensubsewakan aset, maka sewa utama tidak memenuhi kualifikasi sebagai aset bernilai-rendah.”
  • PP08: “Contoh aset pendasar bernilai-rendah dapat mencakup komputer tablet dan komputer personal, furniture kantor yang ringkas, dan telepon.”

2. ACCA

Penentuan apakah aset pendasar bernilai rendah ditentukan secara absolut (bukan secara relatif). Sewa atas aset bernilai rendah yang masuk dalam cakupan perlakuan akuntansi tidak melihat apakah sewanya bernilai material atau tidak. Oleh karena itu, walaupun jenis sewanya berbeda-beda, kesimpulan apakah aset pendasar merupakan aset bernilai rendah akan tetap sama.

Aset pendasar merupakan aset bernilai rendah jika:

  1. Lessee mendapatkan hasil dari penggunaan aset pendasar secara sendiri atau secara bersama-sama dengan sumber daya lain yang sudah tersedia untuk lessee; dan
  2. Aset pendasar tidak sangat-sangat bergantung pada, atau sangat-sangat terkait dengan aset lain.

Sewa atas aset pendasar tidak memenuhi kualifikasi sebagai aset berniali rendah jika pada dasarnya pada saat aset masih baru, nilainya secara umum tidak rendah. Sebagai contoh, sewa mobil tidak akan masuk sebagai sewa atas aset bernilai rendah, karena pada umumnya mobil baru tidak ada yang bernilai rendah.

Contoh dari aset pendasar bernilai rendah dapat berupa tablet, laptop, peralatan kantor, dan telepon.

3. Basis for Conclusion IFRS 16

Basis for Conclusion IFRS 16, yang memberikan dasar-dasar pengambilan keputusan IASB (International Accounting Standards Board) dalam menentukan pengaturan dalam standar akuntansi keuangan dan memberikan tambahan wawasan pemahaman atas penjelasan dalam paragraf PP03-PP08 PSAK 73.

Dasar pertimbangan mengenai pembuatan paragraf pengecualian dalam IFRS mengenai aset bernilai-rendah terdapat dalam paragraf BC98 – BC104 dari Basis for Conclusion IFRS 16. Berikut rangkuman paragraf tersebut:

  1. Penyewa dapat memilih untuk tidak menerapkan IFRS 16 (PSAK 73) untuk sewa dengan aset pendasar bernilai rendah, atas dasar sewa per sewa (lease by lease basis). Hal ini dikarenakan pada saat penyusunan standar, banyak penyewa yang khawatir akan biaya penerapan IFRS 16 jika IFRS ini diterapkan pada sewa dengan aset berjumlah banyak tapi nilainya rendah (cost-benefit constraint). IASB memahami bahwa jika standar ini diterapkan atas kelas aset pendasar, maka penerapannya akan memberatkan penyewa karena penyewa harus menilai setiap aset dalam suatu kelas. Oleh karena itu, pengecualian untuk aset bernilai rendah akan lebih mudah jika diterapkan atas dasar sewa per sewa.
  2. IASB bermaksud untuk menerapkan pengecualian ini untuk aset-aset yang ketika masih baru, bernilai rendah (contohnya tablet, komputer, telepon). Untuk aset-aset yang pada waktu masih baru pada umumnya nilainya tidak rendah, tidak masuk dalam pengecualian. IASB juga menyatakan bahwa penentuan aset bernilai rendah hanya didasarkan pada nilai. Penentuan ini tidak boleh dipengaruhi oleh ukuran, sifat, atau kondisi dari entitas (penyewa). Sebagai contoh, penyewa yang merupakan entitas besar atau entitas kecil, atau penyewa yang ada dalam sektor energi atau sektor jasa, tidak berpengaruh dalam penentuan aset bernilai rendah.
    • Poin 1 dan 2 di atas sejalan dengan PSAK 73 yang menyatakan bahwa mobil bukan aset bernilai-rendah, karena pada umumnya ketika masih baru, mobil tidak bernilai rendah, dan entitas yang berbeda akan memiliki definisi yang sama bahwa mobil bukan merupakan aset bernilai-rendah.
  3. Pada tahun 2015, IASB sempat memikirkan bahwa batas besaran nilai untuk aset bernilai rendah adalah US$5,000 atau kurang dari itu. Namun, nilai ini tidak pernah dimasukkan dalam pengaturan standar.
    • Nilai US$5,000 jika disetarakan rata-rata kurs tengah IDR pada tahun 2015 adalah sebesar IDR66,960,000. Jika dikaitkan dengan contoh mobil, tidak ada mobil baru dengan harga di kisaran 60-70jutaan Rupiah. Sehingga nilai ini sejalan dengan poin 1 dan 3.
    • Sementara itu, IASB menyatakan bahwa nilai US$5,000 adalah pertimbangan untuk batasan nilai aset bernilai-rendah. Secara logika, jika dikaitkan dengan contoh aset seperti telepon, komputer tablet, komputer personal, dan pengecualian mobil seperti yang disebutkan dalam PSAK 73, penjelasan nilai US$5,000 ini masih sejalan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa entitas perlu mengkaji batasan materialitas di bawah batasan nilai tersebut, bukan di atas batasan nilai tersebut.
  4. Penelitian lapangan IASB menunjukkan bahwa sebagian besar aset dan kewajiban yang muncul dalam sewa-sewa yang dikecualikan ini tidak berdampak material, bahkan secara agregat. Penerapan konsep materialitas sejalan dengan yang ada dalam kerangka konseptual dan IAS 1 (PSAK 1: Penyajian Laporan Keuangan).
  5. IASB memperhatikan risiko bahwa nilai sewa secara agregat dapat berdampak material dalam suatu kasus. Sebagai contoh, hasil penelitian lapangan menunjukkan bahwa nilai agregat menjadi material pada suatu aset besar yang terdiri dari beberapa sewa aset bernilai rendah (sebagai contoh peralatan IT yang terdiri dari komponen bernilai rendah). Oleh karena itu IASB memutuskan bahwa pengecualian IFRS 16 tidak dapat diterapkan untuk aset pendasar yang sangat-sangat bergantung pada atau sangat-sangat terkait dengan aset pendasar lainnya. Pengecualian ini juga tidak dapat diterapkan jika penyewa tidak mendapatkan keuntungan dari aset pendasar secara sendiri atau secara secara bersama-sama dengan sumber daya yang tersedia, terlepas dari nilai aset tersebut.

IASB mensyaratkan pengungkapan jumlah nilai yang menjadi batasan aset bernilai rendah. Dalam sudut pandang IASB, pengungkapan ini akan memberikan informasi yang bermanfaat untuk pengguna laporan keuangan.

Dasar Penentuan Aset Bernilai-Rendah

Berdasarkan Basis for Conclusion IFRS 16 paragraf BC98-BC104 dan Pedoman Penerapan Paragraf PP03-PP08 PSAK 73, berikut poin-poin yang menjadi dasar penentuan aset bernilai-rendah:

  1. Aset bernilai-rendah ditentukan untuk aset pendasar dalam sewa (bukan atas sewanya).
  2. Aset Pendasar (underlying asset) adalah “Aset yang terikat pada suatu sewa, di mana hak untuk menggunakan aset tersebut telah diberikan oleh pesewa kepada penyewa” (PSAK 73 – Lampiran A).
  3. Aset pendasar bernilai-rendah dapat ditentukan atas dasar sewa-per-sewa, bukan per kelas aset.
  4. Aset bernilai-rendah ditentukan hanya berdasarkan nilai. Ukuran, sifat, jenis entitas tidak berpengaruh. Sehingga entitas yang berbeda akan mendefinisikan aset bernilai-rendah secara sama.
  5. Penentuan nilai aset bernilai-rendah adalah ketika aset masih baru. Sehingga, untuk aset-aset yang pada waktu masih baru bernilai tidak rendah, tidak masuk dalam pengecualian ini.
  6. Aset bernilai-rendah memberikan manfaat bagi penyewa dari penggunaan secara terpisah atau bersamaan dengan sumber daya lain yang telah tersedia untuk penyewa
  7. Aset bernilai-rendah tidak memiliki ketergantungan yang tinggi, atau memiliki interelasi yang tinggi, dengan aset lain. Sebagai contoh, sistem jaringan IT.
  8. Penentuan batasan nilai untuk aset bernilai-rendah bukan merupakan penentuan materialitas, namun penentuan ini harus sejalan dengan:
    • Kerangka Konseptual Pelaporan Keuangan, Bab 3: Karakteristik Kualitatif Informasi Keuangan yang Berguna, paragraf 3.11: “Informasi adalah material jika penghilangan atau salah saji informasi tersebut dapat mempengaruhi keputusan yang dibuat pengguna yang berdasarkan atas informasi keuangan tentang entitas pelapor tertentu. Dengan kata lain, materialitas adalah aspek relevansi yang spesifik untuk suatu entitas tertentu berdasarkan sifat atau besarannya, atau keduanya, dari pos-pos dimana informasi tersebut berhubungan dalam konteks laporan keuangan masing-masing entitas.” dan;
    • PSAK 1: Penyajian Laporan Keuangan (paragraf 29): “Entitas menyajikan secara tersendiri setiap kelas pos serupa yang material. Entitas menyajikan secara tersendiri pos yang memiliki sifat atau fungsi yang tidak serupa kecuali pos tersebut tidak material.”

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa penentuan aset bernilai rendah bukan merupakan hal yang sangat rumit jika berpegang pada substansi standar akuntansi. Walaupun dalam penerapannya, setiap orang bisa memiliki pendapat yang berbeda-beda karena mungkin kurangnya pemahaman atas baik itu standar akuntansi atau proses bisnis, atau bisa jadi juga manajemen memiliki kepentingan seperti dalam agency theory. Sebagai contoh, BDO menjelaskan bahwa penentuan aset bernilai rendah harus dilakukan dengan seksama, terutama untuk manajemen yang kinerjanya diukur dari EBITDA, karena PSAK 73 akan berdampak ke naiknya EBITDA.

 

Demikian tulisan singkat saya, semoga bermanfaat.

Salam,

Yohanes Handoko Aryanto, SE., MBA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *