SIKLUS AKUNTANSI

Siklus Pelaporan Keuangan

Berdasarkan prinsip kelangsungan usaha, entitas diharapkan untuk melakukan kegiatan usaha dalam jangka waktu yang tidak tebatas. Oleh karena itu, entitas akan terus menerus melakukan transaksi yang mengakibatkan persamaan akuntansi akan terus berubah. Dalam kondisi semacam ini, informasi keuangan akan menjadi paling andal jika pelaporan dilakukan pada saat entitas sudah berhenti melakukan transaksi (tidak ada perubahan informasi lagi). Namun, karena pelaporan tidak mungkin menunggu hingga entitas berhenti melakukan transaksi, maka pelaporan keuangan dilakukan setiap periode. Sehingga, posisi keuangan yang dilaporkan entitas adalah posisi keuangan yang sudah berhenti hingga periode tersebut. Periode pelaporan ini ditentukan lamanya secara konsisten, tujuannya agar laporan keuangan dapat diperbandingkan antar periode, baik antar periode dari sebuah entitas maupun antar periode antar entitas. Kebanyakan entitas di dunia ini memilih periode pelaporan yang dimulai dari 1 Januari dan berakhir 31 Desember.

Setiap periode pelaporan memiliki urutan kegiatan akuntansi dari awal periode hingga akhir periode. Kegiatan akuntansi ini akan berulang setiap periode pelaporan, dan disebut sebagai siklus pelaporan. Berikut ini merupakan urutan siklus pelaporan yang akan dibahas satu per satu dalam bab ini:

  1. Identifikasi dan pengukuran transaksi
  2. Penjurnalan transaksi dalam akun-akun
  3. Pemindahan akun-akun dari jurnal ke buku besar akun (pemindahbukuan/posting) dan penghitungan saldo akun dalam buku besar
  4. Penyusunan saldo sebelum penyesuaian
  5. Penyesuaian
  6. Penyusunan saldo setelah penyesuaian
  7. Pencatatan penutup
  8. Penyusunan laporan: Neraca, Perubahan Ekuitas, Laba/Rugi, Aliran Kas
  9. Pencatatan pembalik.

Jika digambarkan dalam garis waktu, maka tahapan 1-3 merupakan tahapan dalam periode berjalan (1 Januari hingga 31 Desember), sedangkan tahapan 4-9 merupakan tahapan dalam akhir periode akuntansi (31 Desember, atau saat pelaporan keuangan). Berikut ini gambar garis waktu untuk menunjukkan siklus pelaporan keuangan:

grafik.png

1. Identifikasi dan Pengukuran Transaksi

Dalam tahap pertama ini, transaksi diidentifikasi untuk kemudian ditentukan akan dicatat ke dalam akun apa. Dalam tahap identifikasi ini, transaksi ditentukan berdasarkan definisi dan substansi ekonomik dari elemen dan akun-akunnya. Tahap identifikasi ini merupakan tahap dasar yang cukup penting, karena kesalahan pengidentifikasian akan menyebabkan kesalahan pencatatan transaksi ke dalam akun. Hal ini akan berakibat pada munculnya informasi historis yang menyesatkan (misleading).

Dalam mengidentifikasi transaksi, entitas harus mengacu pada PABU. Biasanya, suatu entitas sudah memiliki PABU dalam bentuk pedoman akuntansi yang mengacu pada SAK. Di dalam pedoman tersebut, biasanya sudah terdapat definisi elemen dan akun, juga syarat pengakuan transaksi. Suatu transaksi ditentukan akan dicatat atau tidak dicatat berdasarkan syarat pengakuan, dan dicatat ke dalam akun berdasarkan kesesuaian substansi transaksi dengan definisi akun. Jika suatu entitas tidak memiliki pedoman akuntansi, atau transaksi tidak diatur dalam pedoman akuntansi, maka entitas mengacu pada SAK. Jika SAK tidak mengatur, di dalam SAK terdapat urutan pengaturan yang harus diacu oleh entitas, dan dapat dilihat di bagian KDPPLK, dan PSAK 25 (revisi 2009): Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi, dan Kesalahan.

Berikut ini contoh pertanyaan untuk tahapan identifikasi transaksi. Perusahaan Annaheim Electronics memiliki sebuah gedung yang dibeli seharga Rp100.000.000. Menurut ahli penilai, gedung Annaheim Electronics dapat digunakan untuk 10 tahun, tanpa nilai sisa setelah penggunaan. Pada awal tahun ke dua, gedung ini disewakan ke perusahaan Universal Corporation. Universal Corporation menyewa gedung selama 9 tahun dan dalam perjanjian sewa menyewa ini, Universal Corporation menanggung risiko ekonomik gedung. Pertanyaannya, siapakah yang harus mencatat transaksi pembelian gedung? Kemudian, siapakah yang mencatat gedung setelah gedung disewakan? Dicatat pada akun apakah gedung pada saat pembelian, dan gedung setelah disewakan? Pertanyaan-pertanyaan ini dapat dijawab menggunakan definsi akun dan pengaturan substansi ekonomik transaksi, yang terdapat dalam PABU.

Setelah transaksi diidentifikasi dan dicatat ke dalam akun, langkah selanjutnya adalah mengukur seberapa besar jumlah uang yang harus dicantumkan dalam akun tersebut. Dalam kasus Annaheim Electronics, muncul biaya balik nama kepemilikan dan biaya perantara dalam pembelian gedung. Pertanyaannya, seberapa besar jumlah uang yang harus dicatat ke dalam akun gedung? Kemudian, ketika disewakan, berapakah nilai dari gedung tersebut? Pertanyaan ini dapat dijawab menggunakan dasar pengukuran akun yang terdapat dalam PABU.

Saat ini terdapat beberapa dasar untuk mengukur besarnya transaksi yang akan dilekatkan ke akun-akun dalam laporan keuangan. Dasar-dasar pengukuran tersebut adalah:

  1. Kos Historis. Dalam dasar pengukuran ini, suatu akun dicatat sebesar nilai pertukaran (kos) pada saat pertukaran terjadi.
    1. Aset dicatat pada jumlah kas atau setara kas yang dibayarkan, atau nilai wajar dari imbalan yang diberikan untuk memperoleh aset tersebut pada saat perolehan (akuisisi).
    2. Liabilitas dicatat sebesar jumlah yang diterima sebagai pertukaran atas munculnya kewajiban, atau dalam keadaan tertentu (sebagai contoh, pajak penghasilan), sebesar jumlah kas atau setara kas yang akan dibayarkan untuk menyelesaikan kewajiban dalam keadaan usaha normal.
  2. Kos kini. Dalam dasar pengukuran ini, suatu akun dicatat sebesar nilai pertukaran jika pertukaran terjadi saat ini.
    1. Aset dinilai sebesar jumlah kas atau setara kas yang akan dibayarkan jika aset yang sama dibeli (diperoleh) pada saat ini.
    2. Liabilitas dinilai sebesar jumlah kas atau setara kas yang tidak didiskontokan, yang diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban pada saat ini.
  3. Nilai realisasi/penyelesaian. Dalam dasar pengukuran ini, akun dicatat sebesar nilai yang dapat direalisasi pada pelepasan aset atau penyelesaian liabilitas.
    1. Aset dinilai sebesar jumlah kas atau setara kas yang dapat diperoleh saat ini dari penjualan aset dalam pelepasan normal (orderly disposal).
    2. Liabilitas dinilai sebesar. Nilai diskonto kini dari aliran bersih kas keluar masa depan yang diharapkan akan diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban dalam keadaan usaha normal.
  4. Nilai kini (present value). Dalam dasar pengukuran ini, suatu akun dicatat sebesar aliran kas masa depan yang didiskontokan ke nilai saat ini (nilai kini).
    1. Aset dicatat sebesar aliran masuk kas masa depan yang didiskontokan ke nilai kini.
    2. Liabilitas dicatat sebesar aliran keluar kas masa depan yang didiskontokan ke nilai kini yang diharapkan akan diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban dalam keadaan usaha normal.
  5. Nilai Wajar. Dalam dasar pengukuran ini, suatu aset/liabilitas dicatat sebesar nilai pasar (wajar) dari aset/liabilitas tersebut pada saat pelaporan. Jika tidak terdapat pasar aktif, maka menggunakan nilai pasar dari aset/liabilitas sejenis di pasar aktif. Jika tidak terdapat aset/liabilitas sejenis, maka menggunakan perkiraan nilai wajar menggunakan model perhitungan yang ditentukan menggunakan jasa penilai.

Dasar pengukuran yang secara umum digunakan oleh entitas dalam membuat laporan keuangan adalah kos historis. Biasanya dasar ini dikombinasikan dengan dasar lain, tergantung dari jenis transaksi dan akunnya. Pengukuran dan cara mengukur akan dibahas lebih lanjut dalam pembahasan masing-masing akun pada bab-bab selanjutnya.

2.Penjurnalan Transaksi

Setelah transaksi diidentifikasi ke dalam akun-akun dan diketahui besaran unit moneternya, akun beserta unit moneternya dicatat ke dalam jurnal berdasarkan bukti transaksi. Penjurnalan dilakukan berdasarkan konsep persamaan dasar dan debit-kredit yang sudah dijelaskan pada bab sebelumnya, dan pencatatan dalam jurnal dilakukan berdasarkan urutan waktu. Dalam akuntansi manual, penjurnalan dilakukan dengan mencatat tanggal transaksi, kode akun, nama akun, keterangan, dan jumlah moneter. Berikut ini contoh bentuk jurnal:

2.png

Penjurnalan tidak harus menggunakan bentuk seperti di atas ini. Namun, pada prinsipnya jurnal harus merepresentasikan persamaan dasar akuntansi. Selain itu, akun-akun yang dicatat harus berurutan sesuai kejadian dan merepresentasi transaksi beserta besarannya (jumlah moneter). Informasi-informasi non-moneter terkait transaksi dicatat dalam keterangan jurnal. Selain melakukan penjurnalan, bukti-bukti dari transaksi yang dijurnal harus didokumentasikan. Hal ini bertujuan agar laporan keuangan dapat diaudit (auditable), sehingga dapat ditentukan tingkat keyakinan atas keandalan laporan keuangan tersebut.

3.Pemindahbukuan (Posting)

Setelah semua transaksi dijurnal ke dalam akun, akun-akun sejenis yang muncul dalam satu periode perlu dikumpulkan dalam kelompok akun masing-masing untuk dihitung saldonya. Hal ini dikarenakan, laporan keuangan cukup menyajikan saldo dari akun yang menunjukkan besaran moneter dari akun tersebut selama satu periode pelaporan. Sebagai contoh, akun kas dalam satu periode dapat muncul ratusan kali dalam jurnal. Akun kas yang muncul berkali-kali ini dikumpulkan dalam satu buku besar kas untuk dihitung saldonya. Berikut ini contoh dari bentuk buku besar:

3.png

Dalam contoh di atas, di akhir periode telah diketahui saldo akhir kas (17.000.000 di debit, hal ini dikarenakan dalam contoh tersebut total saldo kas akhir ada di debit). Saldo akhir kas ini menunjukkan besarnya kas dalam satu periode, dan saldo akhir ini yang nantinya ditampilkan di Neraca (bila tidak ada penyesuaian). Pembuatan buku besar diawali dari pemindahan akun-akun yang ada di jurnal-jurnal transaksi, ke buku besar masing-masing akun berdasarkan urutan waktu. Berikut ini diagram yang menunjukkan perpindahan akun dari jurnal ke buku besar (dalam contoh ini buku besar kas):

4.png

4.Penyusunan Saldo Sebelum Penyesuaian

Setelah saldo akhir dari semua akun telah diketahui, akun-akun disusun dalam sebuah susunan yang merepresentasikan laporan keuangan. Hal ini dikarenakan saldo-saldo akhir periode yang terdapat dalam buku besar tersebut bukan merupakan saldo final, karena masih terdapat hal-hal yang harus disesuaikan, seperti misalnya kesalahan catat dalam periode berjalan atau pencatatan secara akrual yang memerlukan penyesuaian. Dalam akuntansi manual, tempat untuk menyajikan susunan akun dan saldonya disebut dengan neraca saldo (trial balance). Neraca saldo ini perlu dibuat dalam akuntansi manual karena digunakan sebagai alat pengendalian dan koreksi (seperti yang dikatakan oleh Luca Pacioli di bagian kutipan yang merupakan awal kata pengantar buku ini). Berikut ini contoh neraca saldo:

Nama Akun Saldo Sebelum Penyesuaian Saldo Penyesuai Saldo Setelah Penyesuaian
Debit (Dr) Kredit (Cr) Debit (Dr) Kredit (Cr) Debit (Dr) Kredit (Cr)
Kas
Piutang
Persediaan
Mobil
Gedung
Tanah

Dalam ilustrasi di atas, terlihat bahwa akun-akun disusun urut ke bawah, dengan urutan paling atas adalah akun-akun neraca (aset, dilanjutkan liabilitas, dan kemudian ekuitas) dan dilanjutkan akun-akun laba/rugi (pendapatan dilanjutkan biaya). Dalam ilustrasi tersebut, berdasarkan urutan baris, dari kiri adalah penyajian saldo-saldo akun sebelum penyesuaian, kemudian di sebelah kanannya adalah saldo penyesuai, dan paling kanan adalah saldo setelah penyesuaian (saldo sebelum penyesuaian disesuaikan menggunakan saldo penyesuai). Saldo setelah penyesuaian inilah yang disajikan di laporan keuangan. Berikut ini dibahas mengenai prinsip penyesuaian dan jurnal penyesuai.

5. Penyesuaian

Penyesuaian selalu dilakukan pada akhir periode pelaporan (biasanya 31 Desember). Jurnal yang dibuat dengan tujuan untuk melakukan penyesuaian disebut dengan jurnal penyesuai. Penyesuaian ini terjadi karena adanya tiga prinsip akuntansi yaitu, asas akrual, periodisasi, dan kos manfaat. Seperti yang sudah dibahas dalam bab sebelumnya, konsep dari asas akrual adalah, bahwa suatu transaksi atau peristiwa ekonomik diakui pada saat terjadinya (bukan pada saat kas dan setara kas diterima/dibayar). Konsep dari periodisasi adalah, laporan keuangan disajikan secara periodik dan pendapatan dan biaya diakui dalam periode terjadinya. Sedangkan konsep dari kos manfaat adalah, manfaat dari penyediaan laporan keuangan harus lebih dari kos penyediaannya. Berikut ini akun-akun yang perlu disesuaikan pada akhir periode:

5

Pada dasarnya akun nomor 1 dan 2 memiliki dasar logika yang sama dan dicatat karena prinsip periodisasi. Akun nomor 3 dan 4 memiliki dasar logika yang sama dan dicatat berdasarkan prinsip akrual. Sedangkan akun nomor 5 dan 6 memiliki dasar logika yang sama dan dicatat berdasarkan prinsip kos manfaat. Berikut ini penjelasan masing-masing akun dan pembuatan jurnal penyesuai terkait akun-akun tersebut.

  1. Biaya dibayar di muka

Ada beberapa jenis biaya yang jumlah pembayarannya tetap untuk setiap periode, sebagai contoh adalah biaya asuransi. Misalnya, setiap bulan suatu entitas harus membayar biaya asuransi dalam jumlah yang sama, yaitu Rp100.000. Suatu ketika, manajemen berpikir, daripada membayar tiap bulan Rp100.000, lebih baik biaya asuransi ini dibayar sekalian untuk satu tahun. Sehingga, entitas membayar tunai biaya asuransi untuk satu tahun di muka sebesar Rp1.200.000. Secara akuntansi, pengeluaran kas Rp1.200.000 untuk membayar biaya asuransi ini harus dicatat. Namun berdasarkan prinsip periodisasi, biaya harus dicatat sesuai periode terjadinya. Dalam hal biaya dibayar di muka ini, sebetulnya biaya belum terjadi tetapi sudah dibayar. Oleh karena itu, biaya dibayar di muka ini tidak dicatat sebagai biaya ketika pembayaran kas di muka terjadi. Berikut ini jurnal ketika melakukan pembayaran di muka (misalnya pembayaran pada 1 Juli 2010):

1 Juli 2010     Dr Biaya asuransi dibayar di muka                  Rp 1.200.000

Cr Kas                                                             Rp 1.200.000

Dalam jurnal di atas, terlihat kas berkurang sejumlah yang dibayarkan untuk biaya asuransi. Sedangkan biaya asuransi yang dibayarkan di muka untuk 12 bulan dicatat dalam akun biaya asuransi dibayar di muka. Walaupun namanya adalah biaya, biaya asuransi dibayar di muka ini bukan merupakan akun dari elemen biaya, namun akun dari elemen aset. Hal ini dikarenakan secara substansi ekonomik, biaya belum terjadi karena belum memasuki periode terjadinya. Karena belum terjadi, biaya dibayar di muka ini secara substansi ekonomik masih dikuasai oleh entitas dan belum menjadi hak pihak lain (dalam hal ini pemberi jasa asuransi), maka biaya dibayar di muka ini masuk dalam elemen aset.

6

Dalam gambar di atas ini terlihat bahwa titik pembayaran biaya asuransi untuk 12 bulan adalah pada awal Juli. Pada saat itu, biaya bulan Agustus, September, Oktober, hingga Juni 2011 masih belum muncul karena belum memasuki periodenya.

Ketika akhir periode pelaporan, yaitu pada 31 Desember 2010, entitas harus mengakui biaya dibayar di muka yang sudah benar-benar menjadi biaya, yaitu biaya bulan Juli hingga Desember 2010. Oleh karena itu, pada akhir periode pelaporan dilakukan penyesuaian dengan jurnal penyesuai sebagai berikut,

31 Des 2010     Dr Biaya asuransi                               Rp600.000

Cr Biaya asuransi dibayar di muka        Rp600.000

Jurnal di atas menunjukkan penghapusan biaya asuransi dibayar di muka karena biaya dibayar di muka tersebut sudah menjadi biaya asuransi pada akhir periode pelaporan, sebesar Rp600.000 yang berasal dari Rp100.000 × 6 bulan (Juli, Agustus, September, Oktober, November, Desember).

Pendekatan dalam mencatat pengeluaran kas untuk biaya dibayar di muka ini disebut dengan pendekatan neraca (disebut juga pendekatan aset non kas). Akun biaya dibayar di muka disebut dengan akun riil karena akun ini benar-benar menunjukkan substansi ekonomik dari transaksi yang terjadi (biaya yang belum terjadi tetapi dibayar di muka). Pendekatan lain dalam mencatat transaksi semacam ini adalah pendekatan laba/rugi (disebut juga pendekatan biaya). Dalam pendekatan ini, ketika entitas membayar di muka, entitas mencatat jurnal biaya asuransi pada kas. Akun biaya ini disebut sebagai akun nominal, karena akun ini tidak mencerminkan substansi dari transaksi yang terjadi. Pada akhir periode, entitas membuat jurnal penyesuai untuk menyesuaikan aset non kas (biaya dibayar di muka) yang disajikan di neraca.

  1. Pendapatan diterima di muka

Logika dari pendapatan diterima di muka mirip dengan biaya dibayar di muka. Bedanya, dalam pendapatan diterima di muka, entitas menerima pendapatan untuk beberapa periode ke depan. Sebagai contoh, suatu entitas menjalankan usaha jasa pembersih gedung. Untuk jasa pembersihan dalam satu bulan, entitas dibayar Rp1.000.000. Entitas lain yang menyewa jasa pembesih ini membayar di muka jasa pembersihan untuk satu tahun sebesar Rp12.000.000. Secara akuntansi, penerimaan kas Rp12.000.000 dari pendapatan jasa ini harus dicatat. Namun berdasarkan prinsip periodisasi, pendapatan harus dicatat sesuai periode terjadinya. Dalam hal pendapatan diterima di muka ini, entitas belum menjalankan kewajibannya membersihkan gedung karena belum memasuki periodenya. Oleh karena itu, pendapatan diterima di muka ini tidak dicatat sebagai pendapatan ketika penerimaan kas di muka terjadi. Berikut ini jurnal ketika melakukan penerimaan kas di muka (misalnya pembayaran pada 1 Agustus 2010):

1 Agst 2010     Dr Kas                                                                        Rp 12.000.000

Cr Pendapatan jasa diterima di muka             Rp 1.200.000

Dalam jurnal di atas, terlihat kas bertambah sejumlah yang diterima untuk membersihkan gedung selama satu tahun. Sedangkan pendapatan jasa yang diterima di muka untuk 12 bulan dicatat dalam akun pendapatan jasa diterima di muka. Walaupun namanya adalah pendapatan, pendapatan jasa diterima di muka ini bukan merupakan akun dari elemen pendapatan, namun akun dari elemen kewajiban. Hal ini dikarenakan secara substansi ekonomik, pendapatan belum terjadi karena belum memasuki periode terjadinya. Karena belum dijalankan, pendapatan diterima di muka ini secara substansi ekonomik masih menjadi kewajiban entitas (entitas masih berkewajiban membersihkan gedung), maka pendapatan diterima di muka ini masuk dalam elemen kewajiban.

7

Dalam gambar di atas terlihat bahwa titik penerimaan pendapatan membersihkan gedung untuk 12 bulan adalah pada awal Agustus. Pada saat itu, pendapatan bulan Agustus, September, Oktober, November, Desember masih belum muncul karena kewajiban membersihkan gedung belum dijalankan.

Ketika akhir periode pelaporan, yaitu pada 31 Desember 2010, entitas harus mengakui pendapatan jasa diterima di muka yang sudah benar-benar menjadi pendapatan, yaitu pendapatan bulan Agustus hingga Desember 2010. Oleh karena itu, pada akhir periode pelaporan dilakukan penyesuaian dengan jurnal penyesuai sebagai berikut,

31 Des 2010     Dr Pendapatan jasa diterima di muka            Rp5.000.000

Cr Pendapatan   jasa                                          Rp5.000.000

Jurnal di atas menunjukkan penghapusan pendapatan jasa diterima di muka karena pendapatan jasa diterima di muka tersebut sudah menjadi pendapatan jasa pada akhir periode pelaporan, sebesar Rp5.000.000 yang berasal dari Rp1.000.000 × 5 bulan (Agustus, September, Oktober, November, Desember).

Pendekatan dalam mencatat penerimaan kas untuk pendapatan diterima di muka ini disebut dengan pendekatan neraca (disebut juga pendekatan kewajiban). Akun pendapatan diterima di muka disebut dengan akun riil karena akun ini benar-benar menunjukkan substansi ekonomik dari transaksi yang terjadi (pendapatan yang belum terjadi namun diterima di muka). Pendekatan lain dalam mencatat transaksi semacam ini adalah pendekatan laba/rugi (disebut juga pendekatan pendapatan). Dalam pendekatan ini, ketika entitas menerima pendapatan di muka, entitas mencatat jurnal pendapatan jasa pada kas. Akun pendapatan ini disebut sebagai akun nominal, karena akun ini tidak mencerminkan substansi dari transaksi yang terjadi. Pada akhir periode, entitas membuat jurnal penyesuai untuk menyesuaikan kewajiban (pendapatan diterima di muka) yang disajikan di neraca.

  1. Depresiasi (Penyusutan)

Dalam konsep upaya-hasil, suatu entitas mengeluarkan upaya (biaya) untuk mendapatkan hasil (pendapatan). Aset tetap yang dimiliki entitas dan digunakan dalam kegiatan operasi, juga termasuk diupayakan. Oleh karena itu, secara logika aset tetap yang diupayakan dalam kegiatan operasi ini nilainya akan berkurang sebesar yang sudah diupayakan. Nilai dari aset tetap yang secara logika digunakan untuk berupaya ini dicatat dalam biaya depresiasi. Hal ini berarti bahwa biaya depresiasi ini bukan penyusutan yang terjadi secara fisik, namun penyusutan secara konsep yang mencerminkan upaya yang telah dilakukan atas aset tetap. Oleh karena itu, dalam biaya depresiasi ini tidak terdapat kerusakan aset tetap atau pengurangan uang secara nyata. Karena akuntansi mendasarkan pada prinsip periodisasi, maka biaya depresiasi dicatat pada periode terjadinya. Berikut penjelasan konsepnya.

Suatu aset tetap yang dimiliki entitas pasti memiliki manfaat ekonomik. Manfaat ekonomik ini berupa masa manfaat (atau umur ekonomik) dan nilai ekonomik. Masa manfaat suatu aset tetap biasanya lebih dari satu tahun. Jika kita ambil contoh bahwa suatu aset tetap, katakanlah gedung, kosnya Rp100.000.000 dan masa manfaatnya 10 tahun (artinya, aset tetap ini dapat digunakan untuk melakukan upaya selama 10 tahun). Dengan asumsi entitas menggunakan metode penyusutan garis lurus (alokasi jumlah biaya depresiasi sama setiap tahunnya) tanpa sisa manfaat, maka untuk setiap periode pelaporan, gedung yang diupayakan besarnya Rp10.000.000 (Rp100.000.000 ÷ 10 tahun). Hal ini sesuai juga dengan konsep periodisasi yang mana biaya dan pendapatan diakui pada periode terjadinya. Oleh karena itu, pada akhir tahun pertama, besar biaya depresiasi adalah Rp10.000.000, karena biaya yang terealisasi (gedung yang telah diupayakan) pada tahun pertama adalah Rp10.000.000.

Dalam penjurnalan, biaya depresiasi memiliki pasangan akun depresiasi akumulasian (accumulated depreciation). Akun ini disebut sebagai kontra akun dari aset tetap. Disebut dengan akumulasian karena akun ini menampung jumlah biaya depresiasi yang sudah terealisasi. Akun ini disajikan di neraca dengan posisi di bawah aset tetapnya. Sehingga, nilai dari aset tetap adalah nilai tercatat aset tetap tersebut dikurangi dengan jumlah depresiasi akumulasian.

Berikut ini contoh jurnal untuk pencatatan biaya depresiasi pada akhir periode pelaporan tahun pertama,

31 Des th 1      Dr Biaya Depresiasi                Rp10.000.000

Cr Depresiasi Akumulasian        Rp10.000.000

Pada tahun pertama, jumlah akumulasi dari biaya depresiasi adalah Rp10.000.000. Nilai dari aset tetap adalah Rp90.000.000 (Rp100.000.000 – Rp10.000.000) Untuk tahun berikutnya, dibuat lagi jurnal,

31 Des th 2      Dr Biaya Depresiasi                Rp10.000.000

Cr Depresiasi Akumulasian        Rp10.000.000

Pada tahun kedua ini, jumlah akumulasi dari biaya depresiasi yang disajikan di neraca menjadi Rp20.000.000. Nilai dari aset tetap menjadi Rp80.000.000 (Rp100.000.000 – Rp20.000.000).

Istilah depresiasi digunakan untuk menyebut nilai aset tetap yang telah diupayakan. Untuk aset takberwujud, istilahnya adalah amortisasi. Amortisasi ini memiliki konsep yang sama dengan depresiasi, yaitu untuk mencatat nilai dari aset takberwujud yang telah digunakan untuk melakukan upaya.

  1. Piutang

Berdasarkan asas akrual, pendapatan dicatat pada saat terjadinya, bukan pada saat kas diterima. Piutang perlu disesuaikan pada akhir periode terkait hal ini. Sebagai contoh, setiap bulan entitas menerima pendapatan bunga, namun pendapatan bunga ini baru diterima secara kas pada periode berikutnya. Pada bulan Desember (akhir periode), entitas harus mencatat pendapatan secara akrual. Berikut ini jurnal yang digunakan (misalnya pendapatan bunga adalah Rp30.000),

31 Des 2010     Dr Piutang bunga                               Rp30.000

Cr Pendapatan   bunga                          Rp30.000

  1. Utang

Berdasarkan asas akrual, biaya dicatat pada saat terjadinya, bukan pada saat kas diterima. Utang perlu disesuaikan pada akhir periode terkait hal ini. Sebagai contoh, setiap bulan entitas membayar gaji pegawai. Biasanya pegawai bekerja dulu baru gajinya dibayarkan di akhir. Dalam suatu kasus, pembayaran gaji ini pada bulan berikutnya. Dalam kasus semacam ini, pegawai telah bekerja untuk bulan Desember (akhir periode), namun gaji pegawai ini baru dibayarkan pada bulan berikutnya. Oleh karena itu, entitas harus mencatat biaya gaji secara akrual. Berikut ini jurnal yang digunakan (misalnya biaya gaji untuk 100 pegawai adalah Rp400.000.000),

31 Des 2010     Dr Biaya gaji                          Rp400.000.000

Cr Utang gaji                             Rp400.000.000

  1. Barang Habis Pakai

Barang habis pakai adalah barang-barang yang digunakan untuk keperluan sehari-hari kantor. Istilah lain dari bahan habis pakai adalah perlengkapan kantor (supplies). Contoh barang habis pakai adalah kertas dan alat tulis. Pada awal periode, biasanya suatu entitas memiliki persediaan bahan habis pakai. Selama periode berjalan, entitas pasti akan membeli tambahan persediaan bahan habis pakai. Pembelian bahan habis pakai ini biasanya dilakukan secara kolektif (misalnya, membeli sepuluh rim kertas). Selama periode berjalan, manusia-manusia dalam entitas juga pasti akan menggunakan bahan habis pakai ini (misalnya, menggunakan 10 lembar kertas untuk mencetak laporan). Secara akuntansi, kejadian-kejadian pembelian dan penggunaan bahan habis pakai ini akan dicatat. Untuk pembelian bahan habis pakai akan terjadi jurnal sebagai berikut (asumsikan membeli persediaan bahan habis pakai 1000 rim dengan kos Rp5.000.000):

Tgl Beli           Dr Persediaan Bahan Habis Pakai      Rp5.000.000

Cr Kas                                                    Rp5.000.000

Pencatatan untuk kejadian penggunaan bahan habis pakai akan tidak efisien jika dilakukan setiap kali bahan habis pakai digunakan. Sebagai contoh, setiap kali suatu divisi dalam kantor menghabiskan kertas satu rim, akuntan harus mencatat penggunaan kertas ini dengan jurnal biaya persediaan bahan habis pakai pada persediaan bahan habis pakai. Pencatatan ini akan dilakukan terus oleh akuntan setiap kali kertas digunakan. Padahal ini baru kertas, belum persediaan bahan habis pakai lainnya. Hal ini akan bertentangan dengan prinsip kos manfaat, yang mana kos penyediaan laporan keuangan harus lebih kecil dari manfaatnya. Oleh karena itu, pencatatan persediaan bahan habis pakai yang sudah digunakan (telah menjadi biaya), dilakukan pada akhir periode menggunakan jurnal penyesuai. Besarnya persediaan bahan habis pakai yang telah menjadi biaya dihitung menggunakan logika sederhana yaitu, total persediaan yang dimiliki selama periode berjalan dikurangi sisa persediaan hasilnya adalah persediaan yang sudah tidak ada lagi. Secara spesifik logika sederhana ini dijabarkan dalam rumus yaitu,

Persediaan Awal + ∑ Pembelian Persediaan Satu Periode – Persediaan Akhir = Biaya Persediaan

Untuk dapat melakukan perhitungan di atas, pada akhir periode perlu dilakukan penghitungan fisik persediaan, yang bertujuan untuk mengetahui jumlah sisa persediaan yang masih ada (persediaan akhir) dari periode berjalan. Metode ini akan jauh lebih efektif efisien daripada akuntan harus mencatat persediaan yang digunakan setiap kali persediaan digunakan.

Setelah diketahui hasil dari persediaan yang telah menjadi biaya, dibuat jurnal penyesuai. Contoh berikut ini menunjukkan jurnal penyesuai yang dibuat dengan asumsi bahwa persediaan awal adalah Rp10.000.000 dan persediaan akhir adalah Rp8.000.000, sehingga biaya persediaan adalah Rp10.000.000 + Rp5.000.000 – Rp8.000.000 = Rp7.000.000

31 Des 2010     Dr Biaya persediaan bahan habis pakai         Rp7.000.000

Cr Persediaan bahan habis pakai                        Rp7.000.000

  1. Persediaan (metode periodik)

Persediaan yang dimaksud di sini adalah persediaan barang dagang. Persediaan barang dagang dapat dicatat dengan metode perpetual atau periodik. Untuk metode periodik, logika pencatatan dan penghitungan biaya persediaan kaitannya dengan penyesuaian sama dengan logika yang digunakan untuk barang habis pakai yaitu, jumlah persediaan awal ditambah pembelian satu periode menghasilkan total persediaan selama satu periode, dikurangi dengan sisa persediaan akhir tahun menghasilkan persediaan yang telah menjadi biaya (kos barang terjual). Persediaan dan metode-metode pencatatan maupun pengukuran dibahas lebih lanjut dalam bab tersendiri.

6. Penyusunan Saldo Setelah Penyesuaian

Setelah dibuat jurnal-jurnal penyesuai, saldo dari akun-akun yang terdapat dalam jurnal penyesuai tersebut dipindahkan ke dalam neraca saldo dalam kolom penyesuaian (posisi saldo debit/kredit mengikuti jurnal penyesuai). Kemudian, kolom neraca saldo sebelum penyesuaian, ditambah atau dikurangi dengan saldo dalam kolom penyesuaian, hasilnya adalah neraca saldo setelah penyesuaian yang ditulis di kolom sebelah kolom penyesuaian (lihat lagi gambar neraca saldo). Untuk saldo akun neraca saldo sebelum penyesuaian yang tidak mengalami penyesuaian, saldonya hanya dipindahkan dari kolom neraca saldo sebelum penyesuaian ke neraca saldo setelah penyesuaian. Ilustrasi berikut menggambarkan proses dalam pembuatan neraca saldo.

Nama Akun Saldo Sebelum Penyesuaian Saldo Penyesuai Saldo Setelah Penyesuaian
Debit (Dr) Kredit (Cr) Debit (Dr) Kredit (Cr) Debit (Dr) Kredit (Cr)
Kas
Piutang
Persediaan
Mobil
Gedung
Tanah

7. Pencatatan Penutup

Setelah saldo akhir dari seluruh akun disesuaikan untuk pelaporan akhir periode, maka tahap selanjutnya adalah menutup dan memindahkan saldo akun-akun pendapatan dan biaya ke dalam saldo laba (laba/rugi). Hal ini sesuai dengan artikulasi laporan keuangan yang mana tahap pertama dari pembuatan laporan keuangan adalah menghitung laba/rugi yang disebut dengan saldo laba, kemudian memasukkan saldo laba ini ke komponen ekuitas membentuk ekuitas akhir yang hasilnya akan membuat persamaan dalam laporan neraca menjadi seimbang, aset = liabilitas + ekuitas akhir. Penutupan ini dilakukan agar saldo pendapatan dan biaya untuk periode berikutnya kembali ke nol. Hal ini sesuai dengan prinsip periodisasi dan prinsip bahwa pendapatan dan biaya diakui pada periode terjadinya. Akumulasi dari pendapatan dan biaya masuk ke dalam ekuitas menjadi hak pemilik dalam bentuk saldo laba.

Tahap pertama dari pencatatan penutup adalah menutup akun pendapatan dan biaya ke dalam saldo laba dengan jurnal sebagai berikut (jumlah rupiah merupakan permisalan),

Dr Pendapatan (∑ satu periode)                    Rp20.000.000

Cr Saldo Laba                                                    Rp20.000.000

Dr Saldo Laba                                                Rp10.000.000

Cr Biaya X (∑ satu periode)                              Rp1.000.000

Cr Biaya Y (∑ satu periode)                              Rp5.000.000

Cr Biaya Z (∑ satu periode)                               Rp4.000.000

Tahap kedua dari pencatatan penutup adalah menghitung saldo laba/rugi dari saldo laba. Saldo laba hasil penutupan pendapatan bersaldo Rp20.000 kredit dikurangi dengan saldo laba hasil penutupan biaya bersaldo Rp10.000 debit menghasilkan saldo laba (laba) bersaldo Rp10.000 kredit (kredit lebih banyak – debit = kredit).

Saldo laba Rp10.000 kredit ini dimasukkan ke ekuitas. Dalam persamaan akuntansi, jika ekuitas bertambah maka di kredit, sehingga saldo laba yang bersaldo kredit akan menambah ekuitas. Hal ini tercermin dalam penyusunan laporan perubahan ekuitas.

8. Penyusunan Laporan Keuangan

Konsep dari penyusunan laporan keuangan adalah menyajikan akun-akun dan saldo akun tersebut pada tanggal 31 Desember dalam laporan keuangan untuk merepresentasikan persamaan akuntansi (menunjukkan posisi keuangan, kinerja, dan hak pemilik atas kinerja). Oleh karena itu, setelah saldo dari akun-akun dihitung dan disesuaikan dalam neraca saldo, maka tahap selanjutnya adalah menyajikan laporan keuangan.

Laporan keuangan dibuat secara berurutan mulai dari laporan laba rugi (laporan kinerja). Saldo laba dari laporan kinerja ini kemudian dipindahkan ke laporan perubahan ekuitas. Saldo akhir dari ekuitas dalam laporan perubahan ekuitas kemudian disajikan dalam laporan neraca (laporan posisi keuangan).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *