Salah Kaprah Program Beasiswa LPDP

Di negeri ini, ketika orang mendengar kata LPDP, maka beberapa hal yang terbersit di benaknya adalah kesempatan sekolah lagi, sekolah di luar negeri, jalan-jalan ke luar negeri, dan harapan untuk memiliki almamater keren. Bagaimana tidak, selama 5 tahun terakhir LPDP telah menyekolahkan ribuan putra-putri terbaik Bangsa ke kampus-kampus terbaik di dalam maupun di luar negeri. Karena harapan tersebut, berbagai tulisan mengenai rahasia lulus LPDP, tips n trick lolos tes substansi-LGD-wawancara, dan segala sesuatu tentang LPDP mulai bermunculan.

Dulu, saya memiliki pikiran yang awam mengenai LPDP. Sebuah beasiswa yang tidak ada bedanya dengan beasiswa lainnya kecuali jumlah nilai beasiswanya yang besar. LPDP adalah setitik harapan untuk bersekolah lagi, melanjutkan mimpi saya yang terputus. Namun, pikiran saya mengenai LPDP berubah total setelah saya mengikuti program yang disebut dengan program persiapan keberangkatan atau disebut dengan PK. Pikiran saya terbuka.

LPDP bukan sekedar sekolah di kampus yang keren. LPDP bukan sekedar punya almamater keren. LPDP bukan mengenai pergi ke luar negeri, apalagi sekedar jalan-jalan.

LPDP adalah sebuah perjuangan Bangsa yang dicetuskan oleh para negarawan agar Indonesia dapat mencapai apa yang diimpikan oleh para pendiri Bangsa pada tahun 1945. Ini adalah perjuangan besar, lebih besar dari diri sendiri, lebih besar dari ego sendiri.

LPDP adalah perjuangan untuk mencapai kejayaan Indonesia yang bhinneka. Bangsa besar yang terdiri dari kurang lebih 1.282 suku, 712 bahasa, 6 agama yang diakui negara, ratusan budaya, dan bahkan Indonesia memiliki permainan tradisional terbanyak di dunia yang jumlahnya mencapai 2.500 jenis.

Coba anda bayangkan, 1.282 suku tersebar di pulau-pulau yang membentang dan menurut kisah tidak akan selesai dijelajahi dari ujung Sabang sampai ujung Merauke dalam satu hari non-stop. Bandingkan dengan menjelajahi negara-negara eropa menggunakan kereta, dalam setengah hari kita sudah bisa melintasi beberapa negara.

Itulah kenapa para pendiri Bangsa membuat semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yang jika kita dalami maknanya, Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan yang hanya dapat dicetuskan oleh negarawan. Kita baru bisa benar-benar menyebut Bhinneka Tunggal Ika jika kita memiliki wawasan yang luas, atau sudah menjelajahi seluruh Indonesia kilometer per kilometer.

Kita benar-benar Bangsa yang besar, dan untuk menyatukan Bangsa yang besar, diperlukan para pemimpin baru. Pemimpin muda. Pemimpin yang tidak memikirkan kepentingan pribadi atau golongan, pemimpin yang mau menanggalkan egonya, pemimpin yang mau mengabdi, pemimpin yang mau dipimpin, pemimpin yang berwawasan luas, pemimpin yang bersinergi, berintegritas, dan professional.

Pemimpin yang akan mengorkestrakan pembangunan Indonesia.

Dalam orkestra, setiap orang mengambil peran, memimpin dirinya sendiri dan bersinergi. Seperti dalam orkestra, salah satu ciri manusia modern adalah terorganisir dan membesarkan institusi, bukan membesarkan dirinya sendiri. Kualitas suatu Bangsa dapat dilihat dari kualitas institusinya. Oleh karena itu, untuk menjadi Bangsa yang besar, tidak cukup hanya memiliki sumber daya alam yang banyak atau meningkatkan kualitas sumber daya manusia, insitusi harus dibangun bersama. Dalam membangun bersama ini diperlukan teamwork. Masing-masing orang mengambil peran, kemudian memimpin dirinya sendiri dan bersinergi bersama.

Mengambil peran dan bersinergi saja tidak cukup, pemimpin juga harus memiliki integritas. Integritas tidak hanya berarti jujur dan bermoral. Integritas juga berarti kondisi pribadi yang utuh. Bisa dikatakan bahwa antara pikiran, ucapan, hati, dan tindakan selaras. Maka, jika ada orang yang berjanji demi rakyat namun tindakannya demi diri sendiri, itu tidak berintegritas. Tidak hanya itu, jika ada orang yang berkotbah surgawi namun hatinya penuh kebencian, itu juga orang yang tidak berintegritas, dan saat ini banyak sekali pesohor Indonesia yang tidak berintegritas (saya menyebut pesohor karena ketenarannya di muka publik dan memiliki fanbase, bukan karena kualitas kepemimpinan). Mirisnya, para pesohor ini mendistorsi dan mengarahkan pemikiran orang ke arah yang destruktif, bukan arah yang membangun.

Para pesohor ini karena memiliki kepentingan pribadi, tidak memahami bahwa untuk membangun Bangsa yang majemuk, diperlukan kepemimpinan yang inklusif bukan eksklusif. Terlalu banyak perbedaan yang ada di Indonesia dan itu tidak bisa dieksklusifkan oleh kelompok tertentu, karena hal ini pasti akan memunculkan perlawanan dari kelompok lain. Kita lihat contoh, ada kelompok nasionalis dan agamis, dalam kelompok agamis terdiri dari berbagai macam aliran yang berbeda-beda dalam menyikapi suatu hal, begitu juga dengan kelompok nasionalis, bahkan ada juga kombinasi kelompok nasionalis-agamis. Contoh ini jelas menunjukkan bahwa untuk bisa membangun Bangsa yang majemuk, diperlukan sinergi secara inklusif.

Untuk bisa memimpin, seseorang juga harus memiliki wawasan yang luas. Wawasan ini bisa didapat melalui membaca. Berdasarkan penelitian, Indonesia merupakan negara yang paling aktif dalam berkomentar di media sosial, namun indeks membaca sangat rendah. Dalam satu detik, rata-rata bisa muncul 15 cuitan di twitter dari Indonesia, sangat responsif dan agresif sekali dalam mengutarakan pendapat. Selain itu, orang-orang semacam ini lebih suka membaca artikel-artikel singkat yang kurang akan dasar-dasar berpikir namun dengan mudah dapat ditemui di linimasa facebook. Artinya, komentar yang diutarakan oleh orang-orang Indonesia di media sosial sebagian besar bukan merupakan komentar yang berkualitas, tidak bijak, dan sarat dengan pendapat atau kepentingan pribadi.

Padahal kita tahu ada kata iqro’ yang kurang lebih berarti bacalah. Kata ini mengingatkan kita untuk membaca. Bacalah buku, bacalah kitab suci agama, bacalah kehidupan, bacalah sebanyak-banyaknya dan berpikirlah. Membaca kehidupan merupakan hal yang lebih penting daripada membaca buku, karena hidup itu bukan mengenai menjadi pintar, namun menjadi bijak. Kehidupan di alam fana ini keras karena ada tujuannya, yaitu untuk melembutkan hati, supaya kita bisa bersinergi dengan kehidupan untuk memahami kebesaran Sang Pencipta, sehingga pada akhirnya kita bisa mengenal Sang Pencipta Alam Semesta.

Itulah sekelumit wawasan yang saya rangkum dari pembahasan para pembicara hebat di negeri ini dalam program PK. Pembicara dalam program PK bukan pembicara sembarangan, mereka bukan pesohor, mereka adalah orang-orang yang sudah cukup dengan dirinya sendiri, tidak lagi memerlukan ketenaran, dan terus berkarya dan berkiprah demi Indonesia. Saya sebutkan beberapa nama seperti Prof. Nasikin yang memiliki hak paten atas temuannya di bidang bio energi, Dr. Zaini Alif sang pakar mainan tradisional yang mendirikan komunitas Hong, Prof. Jilmy Asshidiqie, Pak Sudirman Said, Andrea Hirata, dan lain-lain.

Dari sekelumit pembahasan ini, mungkin anda sudah bisa melihat sedikit, bahwa LPDP adalah program terkait perjuangan bangsa, bukan sekedar program beasiswa, bahkan saat ini LPDP merupakan beasiswa dengan nominal terbesar supaya para pelajar Indonesia dapat fokus belajar tanpa perlu menurunkan martabat Bangsa dengan mencuci piring Bangsa lain demi membiayai kuliah (awardee LPDP dilarang bekerja dalam bentuk apapun di luar negeri, hanya diminta menimba ilmu, dan jangan sampai dimanfaatkan oleh Bangsa lain). Dapat saya katakan juga, bahwa program LPDP adalah program yang mengumpulkan para calon pemimpin masa depan untuk berjejaring. Saya tidak menyebut mempersiapkan pemimpin atau mencetak pemimpin, karena para awardee LPDP merupakan orang-orang terbaik di Indonesia yang sudah memiliki karakter tersebut (memimpin dalam arti luas termasuk inovatif dan inisiatif), dan di sini saya tidak mengatakan terpintar atau terhebat, karena mereka tidak hanya pintar dan berprestasi namun memiliki karakter dan nilai-nilai kemanusiaan. Jadi jangan salah, LPDP bukan beasiswa biasa yang menyekolahkan orang ke luar negeri. Terlalu dangkal jika tujuannya hanya bersekolah di kampus bagus. Seperti yang diutarakan Prof. Jimly, yang notabene lulusan madrasah dan S1 hingga S3 dari dalam negeri yaitu Universitas Indonesia, jika kamu bisa kuliah di Harvard, yang keren itu Harvardnya bukan kamunya. Kamu bisa jadi biasa-biasa saja. Jadi, jangan pernah berlindung dibalik nama institusi.

Saya akan menceritakan tentang awardee LPDP di PK saya saja untuk memberikan gambaran LPDP, hal ini dikarenakan saya belum mengenal PK sebelum-sebelumnya (yang katanya ada Tasya libur tlah tiba, semoga suatu saat bisa bersinergi dengannya). PK saya PK ke-103 dan bertajuk Danadyaksa Khatulistiwa. PK yang berisi orang-orang dari berbagai macam suku (ada aceh, ada sunda, ada tionghoa, macem-macem deh) dan berbagai macam agama (ada hindu, ada kristen, sampai yang menjalankan syariat dengan benar juga ada). Selain itu, PK ini berisi orang-orang dengan CV yang luar biasa untuk orang seumurannya, namun hal ini cukup wajar, karena pihak LPDP sendiri menyatakan bahwa seleksi terketat LPDP dimulai pada periode Mei 2016 dan LPDP terus meningkatkan kualitas seleksinya (siap-siap untuk yang mau mendaftar LPDP tahun depan ya).

Jika membaca CV awardee PK-103, saya terharu sekaligus baper, saya ini hanyalah remah-remah rempeyek di kaleng Khong Guan. Walaupun ketika hari pertama di PK-103, muncul pertanyaan dalam diri saya, masa’ LPDP nyeleksi orang-orang seperti ini. Banyak yang mukanya ndeso (termasuk saya ya, udah ndeso botak pula) dan sorot matanya nggak tajam. Namun, setelah beberapa hari, pertanyaan saya berubah, masa LPDP ngrekrut saya bersama orang-orang hebat ini.

Ada awardee yang merupakan pendiri beasiswa yang mendanai anak-anak tidak mampu agar bisa masuk ke tahun awal kuliah untuk kemudian berprestasi dan mendapatkan beasiswa penuh dari sumber pendanaan lain, ada awardee yang merupakan pengajar anak-anak yang hidup di pinggiran rel agar mereka bisa mendapatkan pendidikan yang layak, ada awardee yang akan meneruskan Pak Habibie sebagai pakar aerospace engineerging, ada awardee yang meneliti koyo yang dapat mentransmisikan vaksin dan semoga bisa mengambil darah tanpa jarum untuk pengecut dengan hiperkolesterolemia seperti saya, ada juara pencak silat dan karate yang kemudian mengajar, ada juga awardee yang pendidik anak jalanan. Seluruhnya adalah orang-orang berprestasi baik di kancah nasional maupun internasional, walaupun ada juga awardee yang beruntung yaitu saya.

Namun intisari dari awardee PK-103 bukan prestasi. Mereka adalah anak-anak Bangsa yang peduli dengan bangsanya atau keilmuannya, dan karakter mereka jauh melampaui prestasinya. Pertama, mulai dari hari pertama hingga hari terakhir PK, tidak ada satu-pun yang datang terlambat dan dalam berbagai kesempatan selalu antri tanpa perlu diberitahu (lagi-lagi kecuali saya ya). Kedua, bertahan dalam seluruh sesi dengan antusiasme, bahkan dalam sesi terberat mengenai academic writing mulai pukul 15.00 hingga 18.00 tetap semangat, padahal sebagian besar peserta yang hanya tidur 1-3 jam setiap harinya untuk mempersiapkan berbagai macam tugas PK (kecuali saya yang bisa tidur 4-5 jam). Ketiga, sebagian besar pertanyaan dan diskusi yang diajukan sangat berbobot walaupun ada beberapa pertanyaan yang kurang substansial atau jaka sembung. Keempat, cara menanggapi informasi cukup serius, dan yang terakhir dan paling penting adalah, ketika saya berinteraksi dengan mereka, sebagian besar adalah orang-orang yang tidak memiliki ego dan rendah hati, atau bisa disebut memiliki intellectual humility (lagi-lagi kecuali saya).

Itulah awardee LPDP dari PK-103, yang jika hanya dilihat dari penampakan luarnya saja ada yang mirip Pak Jokowi, ada yang mirip anggota boyband korea, ada yang mirip anggota boyband (?) CJR, ada yang mirip sopir bajaj dan paling sering dibully namun rupanya calon doktor di Norway, ada juga yang mirip tukang jual obat di toko kelontong namun rupanya calon doktor yang meneliti lumba-lumba di Belanda. Tidak ada yang menyombongkan diri, tidak ada yang peduli mau dipandang tinggi atau rendah, bahkan secara teamwork rata, tidak ada yang ingin menonjolkan diri, tidak ada yang ‘menepuk dada’ ini lho saya calon mahasiswa UCL, atau dengarkan pendapat saya yang lulusan Master dari Arizona ini.

Di dalam pikiran mereka yang adalah, yang penting saya berkarya dan bermanfaat (walaupun ada juga yang pikirannya nyari cewek atau nyari jodoh ya, tapi itu sebagian saja). Bahkan dalam kondisi paling lelah, saya melihat kematangan emosional. Karakter seseorang akan terlihat ketika lelah atau bahagia. Ketika mereka bahagia diterima sebagai awardee, mereka biasa saja. Ketika sudah lelah mengikuti pembekalan sampai hari ke-empat dengan berbagai macam tugas yang membuat tidur hanya 1-5 jam (tergantung peran masing-masing), tidak ada yang emosional (baik itu marah atau menangis atau baper). Semuanya sabar mencoba memahami kondisi rekan dan kondisi dirinya sendiri. Ketuanya tetap tenang, seluruh tim tetap tenang dalam kerusuhannya. Sejauh ini saya kagum dengan kualitas seleksi LPDP, kalau yang dikumpulkan orang-orang semacam ini, dan mereka berintegritas, saya yakin Indonesia bisa maju di masa depan.

Saya sebagai orang yang mengambil peran sebagai anomali dalam kehidupan, sangat terpacu dan terinspirasi oleh PK-103, baik awardee maupun pembicaranya. Saya jadi teringat seluruh idealisme dan mimpi saya yang kini mulai terkikis oleh rutinitas dan dunia yang tidak ideal.

Hidup itu bukan mencari kemapanan atau kenyamanan, hidup itu tentang berjuang untuk orang lain. Walaupun perjuangan kita sebentar, walaupun kita gagal dalam perjuangan, setidaknya kita pernah mewarnai cerita perjuangan, dan semoga cerita itu bisa menginspirasi generasi selanjutnya.

Saya akan kembali berjuang.

Saya, anak Indonesia.

0 thoughts on “Salah Kaprah Program Beasiswa LPDP”

  1. botol says:

    kokoooo.. arep lanjut nang ndi kowe?? kapan mulai kuliah?

    1. Handoko says:

      Sopo iki……

  2. Billy Sanz says:

    Mas Handoko ijin repost di FB saya ya!

    Salam.
    Billy
    PK-103 BERSAMA MEMBANGUN INDONESIAAA!!

    1. Handoko says:

      Silakan repost. Bersama Membangun Indonesia!!!!

  3. Ria Lyzara says:

    awardee LPDP memang keren2 dan berprestasi. Sama halnya dengan anda, saya juga seperti butiran jasjus saat melihat begitu banyak prestasi dna konstrubusi dari teman2 awardee. Ini baru satu PK, belum lagi semua awardee. Bersyukur bisa menjadi bagian daei keluarga ini.

    Semoga bisa saling menginspirasi dan berkontribusi untuk Negeri..

    Salam,

    1. Handoko says:

      Istilah kekinian ini memang keren. Saya sangat terinspirasi dengan butiran rempeyek di pinggir kali…

  4. aprianavina says:

    Bagooeeess!! 🙂

    1. Handoko says:

      Terima kasih Bu Ketua.

  5. Bung Endy says:

    Sangar Bro…pancen mantab

  6. Selamat telah lolos LPDP, saya masih penasaran dengan beasiswa ini… Semoga saya bisa dapat ilmu yang bermanfaat.

    1. Handoko says:

      Terima kasih… Semangat & terus berusaha!
      Jika ada yang mau ditanyakan, silakan ditanyakan, nanti saya bantu menjawab jika saya bisa.

      Salam,

  7. Dian Dewi says:

    mbacanya kok nangis ya saya, hehehe berasa ga punya harapan bwt ikut LPDP karena biasa aja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *